Seleknas KL-YES 2020-2021

Seleknas KL-YES 2020-2021 

Oleh: Wardanya Najefa Ashra

Pagi itu saya tidak pernah mengira jika saya akan mendapatkan berita mengejutkan tersebut. Saya sedang menyiapkan barang untuk outing class, juga menyicil beberapa barang yang kiranya dibutuhkan saat pergi ke Cibubur untuk mengikuti Pertikawan remaja. Saat masuk ke ruang guru, Pak Muji tersenyum, dan itu membuat rasa khwatir saya menghilang. Awalnya saya kira saya sudah melakukan suatu kesalahan hingga dipanggil ke ruang guru. Ternyata ada kejutan besar, Bunda mengabarkan bahwa saya lulus seleksi nasional dan akan segera berangkat ke Jakarta.

Rasanya seperti mimpi, sulit untuk dipercaya. Bahkan saya sudah lama melupakan kenyataan bahwa saya pernah mengikuti sebuah program pertukaran pelajar saking lamanya menunggu pengumuman. Ditambah lagi, pengumuman yang baru saja saya ketahui bahwa saya lolos dalam program AFS, membuat harapan saya memudar. Saya mengira jika saya lolos AFS maka saya tidak akan lolos YES, semacam konsekuensi karena saya telah megikuti kedua program yang dirancang oleh yayasan yang sama. Apalagi teman-teman yang menjadi saingan saya saat seleksi chapter adalah orang-orang hebat, berwawasan dan berpengalaman yang luas. Tentunya saya merasa sangat kecil saat itu, apalagi kemampuan bahasa Inggris saya dibwah standar rata-rata mereka. Mereka adalah anak yang sudah biasa mengikuti seleksi seperti ini, sementara saya hayalah pemula yang awalnya ingin mencoba-coba keburuntungan dan ternyata berhasil lolos. Sama seperti pengumuman seleksi berkas chapter, saya juga tidak menyangka akan terpilih. Hal itu menjadi kejutan yang sangat mengagetkan buat saya.

Seprti yang sering orang katakan bahwa menggapai mimpi itu sangat sulit, pasti ada saja rintangannya. Sebelum berangkat seleknas, kami diwajibkan untuk mengisi form-form untuk keprluan administrasi yang ada. Hal yang paling banyak menguras waktu dan energi adalah saat saya harus melakukan medical check-up. Selama hampir empat hari saya menjalankan rangkaian MCU, banyak sekali bagian-bagian yang perlu di check bahkan saya sampai disuntik lima kali untuk pengambilan darah yang sampai sekarang bekas kebiruannya masih belum hilang di lengan saya. Selain itu, sangat susah untuk menemukan tempat yang menyediakan tes TBC berupa manteux ataupun tes darah di Lombok, beruntung salah satu teman dari chapter memberikan informasi sehingga saya dapat melakukan tes TBC menjelang keberangkatan.


Sehari menjelang keberangkatan saya merasa sangat excited dan gugup disaat yang bersamaan, sayangnya karena terlarut dengan MCU saya terlambat mengemasi barang-barang, sehingga ada beberapa yang tertinggal dirumah. Hari keberangkatan akhirnya tiba, rasanya saya sangat ingin menjadi yang pertama berada di bandara. Sebelum berangkat, saya memeriksa grup chat dari teman-teman chapter mataram. Handito, salah satu teman saya dari Bima sudah berada di bandara sejak jam tujuh pagi. Sesampainya di bandara yang pertama saya temui adalah Handito dan Gultom (teman dari Sumbawa), yang datang tak lama setalah saya datang. Kami bertiga dan tentunya ayah dan bunda (saya sendiri yang diantar oleh orang tua) menunggu Rizky yang masih berada dijalan (sebelumnya Rizky ke sekolahnya untuk meminta doa) sementara kami sudah harus check-in saat itu.

Setelah mecoba Mengontak Rizky dan menanyakan lokasinya kami memutuskan untuk menunggu sebentar lagi. Selang beberapa menit Rizky datang dan kami langsung masuk check-in. Saya tidak lupa berpamitan dan meminta doa kepada ayah dan bunda, juga berfoto bersama sebelum keberangkatan. Saat check-in, pihak Garuda mengatakan bahwa layar di seat yang kami tempati tidak bisa berfungsi dan kami diberikan kompensasi sebesar Rp.100.000. Wow! Lagipula kami tidak membutuhkan layar video saat di pesawat dan malah menghabiskan perjalanan dengan beristirahat.

Chapter Mataram Squad

Sesampainya kami di Bandara Seokarno-Hattan terminal 3 Jakarta, kami langsung mencari kakak panitia yang sudah dari pagi menunggu kami. Saat melihat lambang KL-YES dari kejauhan, rasa gugup itu muncul kembali, terbesit pertanyaan ‘apa saya bisa diterima dalam lingkungan ini?’ ‘bagaimana teman-teman nanti?’ tapi setelah melihat teman-teman dari Batch 1 yang sangat ramah saya merasa kepercayaan diri saya meningkat lagi. Kami saling berkenalan dan juga bertukar akun sosmed sebelum hp kami dimasukkan kedalam deposit box (dibaca: disita). Saya dengan mudah bergaul dengan mereka dan topik pembicaraan yang kami bicarakan sangat menarik. Topik berbobot dengan sudut pandang remaja. Satu hal yang saya sadari, mereka berpengetahuan luas dan juga memiliki banyak pengalaman. Hal itu sangat mengagumkan bagi saya.

Setelah seluruh peserta lengkap, diadakan pengabsenan per-chapter dan kami segera naik bus yang sudah disiapkan. Selama perjalanan menuju hotel, kakak panitia menjelaskan tentang hal-hal yang perlu doperhatikan dan dipatuhi selama progam seleknas berjalan, termasuk tentang deposit box yang sudah saya katakan sebelumnya. Kami diberikan masing-masing satu tas plastik dan blank tape untuk menulisk nama, selanjutnya menuliskan barang apa saja yang kami bawa dan tandatangan di lembar yang telah diberikan. Handito dan juga Erza (Chapter Ambon) sangat ribut selama perjalanan, mereka membahas hal-hal yang menurut beberapa teman sangat serius seperti masalah politik dan lain-lain. Sebenarnya saya juga berdiskusi tentang pendidikan dengan Marvel (Chapter Banjarmasin) yang kebetulan duduk disamping saya, dia bercerita tentang keresahannya tentang sisitem pendidikan yang ada di Indonesia (Salah satu masalah yang kami diskusikan adalah masalah zonasi).

Sesampainya di hotel Gren Alia, kami diminta berbaris lagi berdasarkan chapter dan diminta untuk menyerahkan berkas formulir yang sudah kami isi berikut deposit box. Kami juga diarahkan sekali lagi menegnai peraturan di hotel dan lainnya serta diberi masing-masing kartu nama. Setelah itu kami diminta untuk menunggu di lantai M. Saya berganti pakaian sesuai dress code yang sudah disampaikan dan segera menuju restoran hotel untuk makan siang.

Forum Ghibah Nasional

Setelah sesi makan siang berakhir, kami menunggu di depan meeting room dan mulai bercerita tentang hal-hal menarik seperti drama korea, drama china, webtoon dan juga wattpad. Beberapa teman di batch 1 juga seorang penulis wattpad yang karyanya sudah dibaca ribuan orang. Semenjak momen itulah kami mulai dekat dan membentuk Forum Ghibah Nasional, hehehe. Walaupun namanya un-faedah, namun di forum tersebut kami membahas hal-hal terbaru yang ada dan juga masalah-masalah yang sedang ramai diperbincangkan di dunia. Sebenarnya, saya tidak terlalu mengeri tentang masalah- masalah terkini di dunia seperti America-China Trade War dan banyak lainnya. Saja menjadi tahu banyak sekali informasi.

Sesi pertama dalam seleksi nasional adalah sesi dinamika kelompok, dimana para peserta diminta untuk membuat river of life masing-masing. Dalam river of life kami diminta untk memberikan gambaran tentang hal-hal atau peristiwa penting yang pernah terjadi sampai saat melakukan seleknas tersebut dan apa yang menjadi mimpi masa depan. Dalam sesi ini dibutuhkan kemampuan menyampaikan informasi dalam bentuk visual atau gambar, sehingga apapun yang digambar dalam river of life memiliki makna tersendiri. Kami kemudian diminta untuk mempresentasikan river of live di depan teman-teman kelompok. Setelah melakukan sesi ini, kami merasa lebih dekat dan terbuka. Saya sendiri merasa lebih lega, karena bisa membagikan pengalaman kepada teman-teman.

Girls of Forum Ghibah Nasional

Setelah sesi pertama selesai, kami melanjutkan sesi kedua yaitu tes psikologi. Tes psikologi yang ada tidak jauh berbeda dengan tes psikologi saat masuk kesekolah. Tes ini berakhir setelah adzan maghrib. Setelah tes psikologi, kakak panitia (mereka adalah returnee dari program YES dan AFS) mengumumkan tentang teman sekamar, memberikan kunci kepada kami, juga mengumumkan jadwal tes berikutnya. Teman sekamar saya bernama Hesti dari chapter Makasar. Selama dikamar kami berbagi informasi tentang apa yang harus dipersiapkan.

Setelah sholat dan juga makan malam, kami segera menuju tempat sesi berikutnya dimana terdapat sesi dinamika kelompok dengan kelompok yang berbeda dari sesi sebelumnya (river of life). Kami diminta menyusun strategi untuk memindahkan kelereng yang ada dari ember satu ke ember dua dengan waktu sesingkat-singkatnya dan menggunakan seluruh peralatn yang ada disana. Menurut saya, yang dinilai disini adalah ketika kita berdiskusi menyusun strategi, apakah kita mampu bekerja dalam tim dan menghargai pendapat orang lain. Pada babak pertama tim kami unggul, tapi kami menjadi juara kedua pada akhirnya. Well, it’s still pretty good! Karena kami bisa bekerja dalam satu tim dan juga tim kami sangat kompak.

Setelah sesi dinamika kelompok selesai, kami diberikan sebuah form tentang keprbadian sebanyak tujuh lembar (setiap halamannya terisi penuh). Lembar tersebut berisi tentang kepribadian diri sendiri, bagaimana hubungan dengan teman, guru, sekolah, keluarga, masyarakat, mimpi kedepannya dan juga bagaimana keinginan dalam kemajuan indonesia. Lembar tersebut harus kami serahkan paling lambat pukul 07.30 pagi. Setelah sedikit pengarahan dari kakak panitia dan juga pengarahan tentang sesi besok, kami kembali ke kamar masing-masing. Saya menyelesaikan form tersebut di dalam kamar. Saat itu rasanya saya sangat lelah dan ngantuk tapi karena deadline yang benar-benar sudah mepet saya akhirnya mencoba untuk bergadang hingga pukul 02.00 pagi. Karena sudah sangat mengantuk, Hesti tertidur sejak pukul 10 malam karena kelelahan. Kami melanjutkan mengisi form pukul 5 pagi. Sebenernya hanya Hesti yang bangun karena saya masih sangat mengantuk. Hesti membangunkan saya lagi sekitar pukul 7. Saya segera menyelesaikan form kemudian bersama-sama Hesti turun untuk sarapan.

Saya dan Hesti serta beberapa teman lainnya yang mendapatkan sesi interview siang kembali ke kamar masing-masing untuk melanjutkan tidur. Kakak panitia juga melarang kami untuk turun dan tetap stay dikamar agar tidak terjadi kebocoran informasi, sekitar jam 09.30 kami berkumpul di salah satu kamar dan mulai membagikan informasi yang kami miliki sambil membahas cerita-cerita horor dari daerah masing-masing. Kami mulai kembali ke kamar masing-masing pukul 12.00 untuk mandi dan juga menyiapkan diri karena sesi interview kedua akan dilaksanakan pukul 13.00. Setelah rapi kami semua turun untuk menyantap makan siang bersama, setelahnya kami segera menuju tempat interview. 

Menunggu nama saya dipanggil membuat saya sangat gugup, ditambah informasi dari teman-teman dari sesi pertama mengatakan bahwa interview akan dilakukan oleh native dan mereka datang dari kedutaan amerika, jadinya interview yang ada akan full english. Saat itu saya merasa kurang percaya diri dengan kemampuan bahasa Inggris saya.

Setiap nama yang dipanggil, bahkan setiap ada kakak panitia yang keluar dari ruangan saya bertambah gugup. Beberapa teman yang sudah selesai melakukan wawancara memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana wawancara berlangsung, sebagian besar mereka mengatakan bahwa wawancara-nya tidak formal dan tegang, lebih ke arah bincang-bincang dan itu sedikit membantu mengatasi kegugupan saya. Saya adalah peserta terakhir yang melakukan wawancara, saat memasuki ruangan rasa gugup itu semakin menjadi, tapi seketika hilang saat saya menjabat tangan para pewawancara dan memeprkenalkan diri saya. Saat wawancara, saya lebih banyak bercerita tntang diri saya dibandingkan dberikan pertanyaan. Satu-satunya pertanyaan tentang amerika yang diajukan pun bersifat umum, sebatas ‘apa yang kamu ketahui tentang amerika?” dan saya menjawab pertanyaan itu dengan jawaban umum agar nantinya tidak terjebak. Topik yang kami bahas seputar hijab, keluarga, bisnis, cita-cita masa depan dan pendidikan-karena sebelumnya saya menyinggung masalah tentang quality of education yang berada di SDGs. Syukurnya, selama melakukan wawancara, saya cukup tenang sehingga bahasa Inggris saya mengalir cukup lancar. Setelah selesai wawancara kami diberikan waktu israhat sampai jam delapan malam.

Selama jam istirahat kami berscerita tentang pengalaman wawancara. Kebanyakan dari teman-teman saya ditanyakan tentang isu-isu politik dan bisnis yang ada di USA. Untungnya, saya tidak mendapatkan topik-topik berat. Kemungkinan besar jika saya ditanyakan tentang topik tersebut saya akan banyak tidak terlalu paham karena kurang periapan. Setelah bersiap-siap dengan pakaian dan menemani Hesti sholat (saat itu saya sedang haid) kami segera makan malam dan bergegas menuju ruangan meeting untuk melanjutkan sesi tes selanjtnya.

Kami diminta menulis esai berdasarkan pertanyaan yang sudah disiapkan dengan waktu 90 menit-essay on the spot. Untungnya berkat kebiasaan saya yang sering mengerjakan sesuatu (biasanya essai) saat deadline segera tiba, saya bisa berpikir lebih cepat untuk merangkai kata-kata yang ada. Saya kurang percaya diri pada sesi ini, karena kami diminta untuk menulis essay dengan bahasa inggris. But english is not a big deal, disini bukan masalah grammar yang di nilai, tapi bagaimana kemampuan berpikir yang saya miliki. Saya berharap bahasa tidak membuat para penilai salah mengartikan maksud saya. Sebenarnya tes ini berjalan dengan baik, saya bisa menyelesaikan essay dalam waktu 70 menit dan menjawab semua pertanyaan dengan percaya diri. Walaupun essay yang saya buat hanya satu setengah halaman, but i’m proud of it! Setelah sesi ini selesai kami diperbolehkan kembali ke kamar masing-masing. Kami berkumpul bersama satu batch dan sama-sama mengucapkan salam perpisahan sebelum kembali ke kamar karena ini adalah malam terakhir.


Last day, hari yang ditunggu-tunggu tapi tidak diinginkan. Saatnya kembali ke rumah, kembali ke kenyataan dan berpisah dengan taman-teman. Rasaya seperti kami sudah saling kenal sejak lama, membuat kami merasa tidak ingin pulang. Janji kami adalah sukses bersama, lulus ataupun tidak lulus, kami tetap akan membawa perubahan baik bagi dunia. Sebelum kepulangan, kami harus menyelesaikan satu sesi yaitu ELTiS atau English Language Test for International Exchange Student. Tidak terlalu banyak yang perlu dikhawatirkan dalam tes ini, ini adalah tes yang sangat basic untuk bahasa inggris. Jika kamu bisa menyelesaikan UN bahasa inggris SMP /SD maka kamu bisa mnegerjakannya, yang dilakukan dalam dua sesi yaitu listening dan juga reading. Setelah selesai melakukan sesi terakhir, kami dikumpulkan dalam ruangan dan diberikan masing-masing deposit box, setelahnya kami berfoto-foto. Kami berpamitan dan berpelukan sekali lagi, karena kami tidak akan tau kapan lagi bisa berjumpa. Kakak panitia mengantar kami pada jam 10.30 dan kami sampai di bandara pukul 11.00, kakak panitia men-drop kami di terminal tiga. Saya dan teman chapter Mataram serta dua orang dari chapter banjarmasin (Marvel dan Vivin) menggunakan sky train menuju terminal satu.

Sejujurnya kami menunggu untuk waktu yang lama saat itu, karena jadwal penerbangan kami jam 20.00 sementara saat itu baru jam 12.00. Selama di bandara kami menunggu di rest room yang berada tak jauh dari gate yang akan kami lewati. Kami menggunakan gate yang berbeda dengan Vivin dan Marvel sehingga beristirahat di rest room agar tetap bersama. Tidak banyak hal yang kami lakukan saat dibandara, tapi ada sebuah kejadian unik dimana saya harus merelakan uang sebanyak Rp 112.000 untuk makan siang. Awalnya kami meilih restoran Prasmana karena berpikir bahwa harga makanan akan lebih murah, namun kenyataan berkata lain. Kata rizky ini adalah karma karena beberapa hari ini kami makan makanan gratisan dan tidak pernah mengeluarkan uang sedikitpun. Kami juga sempat ke salah satu toko buku untuk melihat-sebagian juga membeli buku-buku yang menarik disana. Tidak ingin kejadian makan siang terulang kami akhirnya meumtuskan untuk makan di restaurant fast food AW, dan lumayan menghemat pengeluaran, karena saya tidak makan. (masih shock dengan harga makanan siang tadi).

Tempat makan yang menguras dompet


Setelah makan malam kami memutuskan untuk berpisah ke gate masing-masing agar tidak tertinggal pesawat, sebenarnya sambil menulis ini saya sangat rindu dengan mereka. Itu adalah tiga hari yang sangat indah. Saat sedang menunggu di gate, saya mendapatpanggilan dari kakak panitia. Mereka mencemaskan kami karena sebelumnya pihak maskapai menelpon mereka. Vivin dan Marvel hampir saja ketinggalan pesawat. Saat mereka sudah berangkat, Handito baru sadar chargernya dibawa oleh Vivin, doa kami semoga charger itu dapat dikemblikan saat Orientasi Nasional, yang artinya kami lulus seleksi nasional. Kami kembali ke Lombok dengan selamat dan aman, tapi rasanya hati kami masih tertinggal di Jakarta.

Sampai jumpa di Orientasi Nasional! Amiin..

Posting Komentar

0 Komentar